Kunci Meraih Manisnya Iman
Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya
iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari
selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci
kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam
api neraka. Pertanyaannya, sudahkan tiga hal tersebut ada pada dii kita?
Manisnya Iman
Iman itu manis, bahkan lebih manis dari madu, manisnya iman hanya
akan dirasakan oleh mereka yang memiliki iman yang kuat, manisnya iman
juga dapat diartikan dengan merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah
SWT. Dalam sebuah hadits shahi Bukhari disebutkan :
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله
عليه وسلم – قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ،
وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ
أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tiga hal,
barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu)
menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai
seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran
sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”(HR.Bukhari)
Seseorang akan benar-benar merasakan nikmatnya iman, manisnya iman jika terdapat tiga hal dalam dirinya. Pertama Menjadikan Allah dan Rasulnya lebih dicintai dari selainnya. Iman baru
akan dirasakan manisnya jika cintanya kepada Allah dan Rasulnya itu
melebihi dari kecintaannya kepada yang lain, seperti harta, tahta,
wanita (istri/suami), anak, dan lain sebagainya.
Bisa kita lihat bagaimana istrrinya Yasir ibunda dari Ammar bin Yasir
yaitu sumayyah yang syahid setelah disiksa dan ditusuk demi mempertahankan imannya. Contoh lain juga bisa kita
lihat Bilal bin Rabah yang disiksa ditengah padang pasir dengan terik
matahari yang begitu menyengat hingga sampai akhirnya ditindih dengan
batu besar, tapi Bilal bin Rabah tetap teguh akan keyakinannya justru ia
terus mengucapkan kata “Ahad” yang bertarti Allah Maha Esa. Contoh lain
seperti Khabab bin Al Art seakan tak merasakan luka-luka menganga di
tubuhnya yang disalib. Maka ketika diminta pendapatnya bagaimana jika
Rasulullah yang menggantikannya, ia menjawab dalam nada manisnya iman:
“Bahkan aku tak rela jika kaki Rasulullah tertusuk duri”
Kedua, Mencintai seseorang semata-mata karena Allah. Sering
sekali kecintaan kita kepada yang lain melalaikan cinta kita kepada
Allah dan Rasul-Nya. Boleh kita cinta kepada anak, istri/suami, harta,
tahta, jabatan dan lain sebagainya tapi jangan pernah menjadikan itu
semua sebagai tandingan cinta kita kepada Allah dan Rasulnya. Oleh
karena itu cintailah semua itu karena Allah maka Insya Allah manisnya
iman pun dapat dirasakan.
Ketiga, Benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia
jika dilempar ke dalam api neraka. Manisnya iman juga baru akan
dirasakan jika kita mampu berpegang teguh terhadap keyakinan yang kita
miliki. Itulah sebabnya Rasulullah sering menasehati para sahabatnya
agar tidak kembali jahiliyyah seperti sebelum mereka mendapatkan hidayah
(kembali murtad). Orang yang benci akan kemurtadan sebagaimana ia benci
jika dilemparkan kedalam neraka maka berarti ia telah merasakan
manisnya iman dalam dirinya.
Sikap kita?
Oleh karena itu, jika ingin merasakan manisnya iman dan keteguhan
dalam menjaga iman hendaknya jadikan Allah dan Rasul-Nya lebih kita
cintai dari yang lain, saling mencintai dan menyayangi hanya karena
Allah dan benci terhadap kemurtadan seperti ia benci jika dilemparkan
kedalam Neraka.
